TEKS KAYUH SEPEDA ONTHEL

/
Generator at TextSpace.net/
Tampilkan postingan dengan label klipping koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klipping koran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2015

Klipping Koran , tentang Onthel Produk Jepang

 
Emblem onthel Jepang yang dulu pernah beredar.
YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Sepeda onthel atau sepeda kuno buatan Jepang lebih susah dijumpai ketimbang onthel buatan negara Eropa. Kondisi itu ditengarai karena dulu onthel Jepang kalah pasaran dan kalah gengsi daripada onthel Eropa. Kualitas onthel Jepang pun tak sebagus Eropa.
Ngatidjo (60), pengamat onthel yang juga pemilik bengkel sepeda di Jalan Wates Km 3,5 mengatakan, onthel-onthel Jepang masuk tahun 1958-1960. Saat itu harga yang ditawarkan, juga suku cadangnya, jauh lebih murah daripada onthel buatan Eropa.
"Satu onthel bikinan Eropa kira-kira harganya sebanding dengan dua hingga tiga onthel Jepang. Tapi, masyarakat, terutama di Jawa, sudah telanjur fanatik dan percaya dengan kualitas onthel buatan Belanda atau Inggris," ujarnya, Rabu (2/12).
Harga onthel Eropa yang mulai turun membuat masyarakat punya kemampuan membeli, walau hanya onthel level medium dan bawah. Onthel Jepang menjadi minim peminat. Namun, seingat Ngatidjo yang mbengkel sejak 1968 ini, dulu, banyak masyarakat, terutama petani, mengendarai onthel Jepang.
Onthel Eropa yang paling murah pun, hanya bisa terjangkau oleh petani kelas menengah ke atas. Petani kelas bawah ya tidak bisa membeli. "Nah, ketika onthel-onthel Jepang menyerbu, petani kelas bawah itu akhirnya bisa membeli," paparnya.
Namun, seiring waktu, pandangan masyarakat tidak salah. Tahun 1990-an, onthel-onthel Jepang mulai jarang terlihat. Saat itu Ngatidjo sering menangani onthel Jepang dan melihat pemiliknya mulai menganggap onthel Jepang cepat rusak dan kurang tangguh. Nasib onthel Jepang pun, banyak berakhir sebagai besi tua.
Namun, aksesoris onthel Jepang seperti stang, standar, boncengan, masih bertahan di pasaran dan kini banyak disematkan di onthel Eropa. Masyarakat mulai melirik sepeda jengki buatan China. Onthel Jepang yang tersisa kini biasanya dipakai petani.
Jepang getol memproduksi sepeda usai Perang Dunia II. Mengutip buku Pit Onthel terbitan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 1953, Jepang mempunyai 90 merek. Misalnya, Silk, Yamaguchi, Vanco, Mollis, Radiant, Boeroeng, Diamond, Asia Bike, Zebra, Policy, Fuji, Marue, Club, Lyra, Mayam, Rabbit, dan Shimano. "Ada juga merek The Mister yang boncengannya khas (bermerek Miyata)," ujarnya.
Ditambahkan Ngatidjo, sama seperti onthel Eropa, onthel Jepang juga terbagi dalam beberapa kelas berdasarkan harga dan tingkat kenyamanan.
Shimano menjadi Merek asal Jepang yang terakhir dan paling lama bertahan, tapi sekarang beralih ke produksi aksesoris seperti persneling dan rem yang banyak dipakai sepeda gunung.
Onthel Jepang sebenarnya tidak jelek-jelek amat, tapi memang sekelas di bawah onthel Eropa, baik dari bahan maupun kenyamanan. Masih ada onthel Jepang yang dipakai petani untuk angkut-angkut menunjukkan onthel Jepang pun sebenarnya cukup kuat.
"Sebagian onthel Jepang yang terawat, sejauh yang saya amati, sebenarnya masih nyaman dikendarai, bahkan bisa lebih nyaman ketimbang onthel Eropa. Tapi memang, harga onthel Jepang, belum bisa setara onthel Eropa," papar Ngatidjo.
Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) Towil memperkirakan, surutnya onthel Belanda dan Jepang di Indonesia, juga sepeda bikinan China yang sejak 1970-an sukses menggusur onthel, tak lepas dari kebijakan pemerintah. "Onthel Eropa kini tak dijual. Padahal Gazelle sampai sekarang masih dibuat," ujarnya.

Penulis :
Lukas Adi Prasetya
Editor :
wsn

Klipping Koran , Sepeda kono, Ponorogo Tempatnya Sepeda Onthel Kuno

Ponorogo Tempatnya Sepeda Onthel Kuno


Ilustrasi sepeda tua melakukan parade
TRIBUNNEWS.COM,PONOROGO - Komunitas sepeda unta (kuno/tua) saat ini kian menjamur.

Harga sepeda onthel kuno pun melambung tinggi.

Sepeda kuno (unta) memang paling banyak ditemukan di Ponorogo. Kendati demikian, sepeda kuno yang kini mulai dikembangkan geliatnya melalui berbagai komunitas sepeda kuno itu, memiliki seni perburuan tersendiri.

Pangsa pasar sepeda kuno (tua) itu mulai seharga Rp 3 juta sampai Rp 6 juta, seperti yang ada di Pasar Sepeda Onthel di JL Pahlawan, Kota Ponorogo.

Bahkan ada sepeda milik kolektar dibandrol Rp 50- Rp 60 juta.

Untuk sepeda kuno di pasaran itu, harganya jauh dibawah harga sepeda di tangan kolektor karena faktor keasliannya (original) seluruh onderdilnya.

Apalagi, sepeda kuno itu keluaran sebelum Tahun 1945 atau Kemerdekaan Indonesia.

"Sepeda kuno ini harganya ditentukan keaslian, tahun pembuatan, serta mereknya. Kalau yang kami jual di pasar ini hanya seharga Rp 3 juta sampai Rp 6 juta, kan tidak original semuanya," terang Sholikin (55) kepada Surya (Tribunnews.com Network) , Selasa (10/6/2014).

Lebih jauh warga Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo yang membuka stan penjualan sepeda kuno di Pasar Sepeda di JL Pahlawan, Kota Ponorogo menguraikan, untuk sepeda kuno yang paling banyak diminati pembeli adalah merek Gazele, Humber, Religh, Fongres, Begos, Batavus, dan Simplex.

Akan tetapi, semua yang asli rata-rata sudah ada di tangan para kolektor sepeda kuno.

Salah satunya milik kolektor warga JL Jenderal Sudirman, Ponorogo, Mbah Domo yang rumahnya berdekatan dengan gedung DPD Golkar Kabupaten Ponorogo.

"Di Ponorogo yang paling mahal sepeda milik Mbah Domo. Beliau memiliki puluhan sepeda Gazele asli keluaran Belanda. Itu pusat kolektor Gazele atau kolektor asal Dusun Ngumbul, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun itu ditawar Rp 60 juta saja tidak diberikan," katanya.


"Semua masih original. Bahkan bannya masih original. Kalau kontes ban yang ori dipasang tetapi kalau dipakai harian ban diganti yang biasa," imbuhnya.

Sedangkan kolektor sepeda kuno lainnya ada di Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo memiliki unsur keaslian yang sama dengan kolektor lainnya.

"Saya hanya menunjukkan pada calon pembeli, jika mereka memburu sepeda kuno yang benar-benar asli. Karena sepeda yang saja jual ini tidak ada yang keluaran Tahun 1945. Makanya, kalau ada pembeli saya sarankan ke para kolektor itu," ucapnya.

Selama ini, kata bapak 3 anak yang sudah menyelesaikan semua perkuliahannya itu menguraikan sepeda kuno di Ponorogo memang banyak diburu kolektor dari Magetan, Kediri, Blitar, Tulungagung, Malang, Bali, serta Sragen dan Yogyakarta, Jawa Tengah.

Hal ini disebabkan saat jaman penjajahan peredaran sepeda kuno di Ponorogo terbanyak se Jawa Timur.

"Kolektor Malang dan Bali itu memburu merek tertentu. Pasar sepeda Ponorogo merupakan Pasar sepeda terbesar se Propinsi Jawa Timur. Makanya dikenal kolektor Bali yang khusus mencari merek Humber dan Simplex. Sedangkan kolektor Malang yang dicari merek Simplex," ungkapnya.

Selama ini, kata Solikhin yang sudah bertemu puluhan kolektor sepeda kuno dari berbagai kota dan provinsi ini menguraikan, jika tak dijual dengan harga Rp 20 juta sampai 60 juta, biasanya kolektor ditawari barter oleh calon pembeli sepeda kunonya.

Yakni dijual tukar Motor Honda Vario baru atau bahkan ditukar dengan mobil gaul seharga Rp 60 jutaan.

"Sepeda kuno ditangan kolektor itu termurah Rp 20 juta hingga tak terbatas harganya, tinggal minat dan selera pembeli. Selama ini sudah sering sepeda dibarter dengan mobil atau motor, pokoknya harganya disesuaikan karena memang masih asli," urainya.

Klipping Koran, lesu penjualan sepeda onthel

TRIBUNNEWS.COM,PONOROGO - Pasar Sepeda Onthel untuk kalangan pelajar tergolong masih sepi.

Kendati saat ini memasuki musim menjelang pendaftaran sekolah bagi kalangan pelajar setingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Salah satunya disebabkan tidak adanya larangan bagi kalangan pelajar mulai setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga SMA menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang sekolah.

Kondisi sepinya penjualan sepeda onthel sejak memasuki masa pendaftaran sekolah itu, seperti yang dirasakan dan dialami sejumlah pedagang sepeda onthel bekas dan baru di sentra penjualan sepeda onthel di JL Pahlawan, Kota Ponorogo.

Kliping Koran , Kegiatan Sepeda Onthel


Pasar Sepeda Onthel di Ponorogo Masih Lesu


TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sejumlah sepeda onthel dipamerkan dalam pameran sepeda bertema De Oude Fiets : 116 Tahun Sepeda Mewarnai Indonesia di Bentara Budaya, Jakarta Pusat, Selasa (12/7/2011). Pameran yang akan berlangsung hingga 16 Juli 2011 ini memamerkan sejumlah sepeda onthel dari sejumlah negara seperti Flater dari Jerman, Gazelle dan Simplek Belanda, Derby Belgia, dan Union dari Amerika Serikat. (tribunnews/herudin)